Results (
Indonesian) 2:
[Copy]Copied!
Pada bulan April GSK menjatuhkan harga 3TC, AZT dan Duviral oleh 31-57%. The
Depkes memutuskan untuk melanjutkan pertama dengan impor obat non-dipatenkan. Jadi di
bulan Mei, Depkes mengeluarkan kontrak untuk Stavudine (USD5.54 per 60 tablet), Ritonavir
(USD90.21 per 120 tablet) dan Nevirapine (USD21.91 per 60 tablet) yang akan
diimpor dari India.
Sementara itu, Depkes berdiri teguh pada impor di bawah 'Pemerintah Gunakan'
ketentuan dan keputusan Kabinet ditegaskan kembali. Otorisasi untuk
jangka waktu dua tahun dimulai 1 November 2003 akhirnya diperoleh dari
Departemen Perdagangan Dalam Negeri dan Urusan Konsumen untuk impor AZT, ddI
dan Duviral.
Obat-obatan adalah:
1. DdI 100 tablet mg (pemegang paten: Bristol-Myers Squibb)
2. DdI 25 tablet mg (pemegang paten: Bristol-Myers Squibb)
3. AZT 100 mg kapsul (pemegang paten: GlaxoSmithKline)
4. Lamivudine 150 mg + AZT 300 mg tablet (pemegang paten:
GlaxoSmithKline).
Kondisi untuk perusahaan ditetapkan di bawah penggunaan pemerintah adalah sebagai
berikut (lihat Lampiran 2):
1. Obat yang diimpor harus dipasok ke rumah sakit pemerintah saja.
2. Setiap kotak obat harus diberi label dengan 'KEMENTERIAN kata
KESEHATAN '.
3. Nama merek, bentuk atau warna tablet atau kapsul akan berbeda dari
produk dipatenkan di Malaysia.
4. Perusahaan harus menyimpan catatan penjualan di Racun Grosir Book.
5. Pembayaran ganti rugi akan dibayarkan kepada pemegang paten dalam jangka waktu
dua bulan setelah setiap kali produk yang diimpor.
6. Izin berlaku selama dua tahun.
Being translated, please wait..
