Results (
Indonesian) 2:
[Copy]Copied!
Satu saluran untuk menyebarluaskan materi pendidikan telah menjadi mobil yang dapat mengunjungi tempat-tempat umum, seperti sekolah, pasar, kompleks perumahan, dan gedung perkantoran. Hal ini telah dilakukan dengan sukses di sejumlah kota, termasuk Jakarta dan sekitarnya, Medan, Bandung, Semarang, Surabaya, Denpasar, dan Makassar. Sejauh ini, 48 jenis brosur di enam topik telah didistribusikan. Topik adalah: lembaga perbankan, pengaduan nasabah dan mediasi, tabungan dan investasi, pinjaman, layanan perbankan, dan informasi lainnya, termasuk tips untuk mengatasi situasi keuangan global (Wibowo 2013).
Tujuan pendidikan keuangan yang dirumuskan oleh BI adalah untuk : (i) membangun Bank pikiran dan kesadaran dalam masyarakat; (ii) membangun pemahaman publik produk dan jasa perbankan dan kesadaran akan hak pelanggan dan kewajiban; (iii) risk awareness membangun dalam rangka transaksi keuangan; dan (iv) menyebarluaskan informasi tentang keluhan dan mekanisme penyelesaian sengketa untuk menyelesaikan masalah dengan bank (Wibowo 2013).
Mengingat tujuan tersebut, dapat diharapkan bahwa keberhasilan program pendidikan keuangan akan diukur dengan peningkatan jumlah orang dengan rekening di bank. Dengan kata lain, korelasi positif yang diharapkan antara program pendidikan keuangan dan akses ke layanan keuangan formal. Namun, banyak faktor lain mempengaruhi keputusan orang untuk membuka rekening bank atau menggunakan bank untuk bisnis mereka atau transaksi pribadi. Faktor-faktor ini termasuk pendapatan individu atau status pekerjaan, ketersediaan kantor bank, dan isu-isu geografis yang berkaitan dengan infrastruktur dan / atau transportasi. Jadi, metodologis, cara terbaik untuk mengukur keberhasilan program pendidikan keuangan di Indonesia adalah dengan melakukan pengamatan lapangan dan melakukan wawancara dengan pemegang rekening bank baru untuk membedakan alasan utama mereka untuk membuka rekening bank. Semacam ini penilaian tidak pernah dilakukan oleh OJK atau dengan masing-masing bank. Pendekatan kuantitatif (analisis statistik) akan tidak cukup untuk mengukur keberhasilan atau kegagalan, memang, bahkan mungkin menyesatkan.
5.2 Peraturan Keuangan dan Kebijakan
Dari pengalaman panjang dari strategi pembangunan yang diperoleh selama era Soeharto (1966-1998), yang Indonesia pemerintah telah menyadari bahwa pengecualian keuangan memiliki dampak besar pada kehidupan masyarakat miskin. Dengan tidak adanya fasilitas penyimpanan yang tepat seperti rekening bank tabungan, apa pun jumlah tabungan kecil yang miskin mampu mengumpulkan menjadi rentan terhadap pencurian dan bencana alam, misalnya, banjir. Siklus kemiskinan keuangan-pengecualian adalah salah satu setan yang perlu dipecah. Untuk mengatasi ini, BI dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) telah meluncurkan Strategi Nasional Financial Inclusion.
BI mendefinisikan inklusi keuangan yang luas atau penuh akses masyarakat terhadap pelayanan keuangan, termasuk masyarakat miskin. Ini berarti tidak adanya harga dan nonharga hambatan dalam penggunaan jasa keuangan. Meskipun inklusi keuangan biasanya terkait dengan pengentasan kemiskinan, khususnya melalui skema kredit bersubsidi, juga memiliki hubungan yang kuat dengan stabilitas keuangan (Hadad 2010).
Being translated, please wait..
